BONDOWOSO, FAKTUAL.CO.ID – Usia bukan penghalang untuk menuntut ilmu. Di usianya yang menginjak 71 tahun, Mbah Sittiha, lansia binaan Rumah Zakat di Taman Lansia Barokah, Desa Wonosari, Kecamatan Grujugan, Kabupaten Bondowoso, membuktikan bahwa tekad dan ketekunan mampu mengantarkan seseorang mencapai tujuan, meski harus melewati proses panjang.
Pada Ahad (25/10/2026), Mbah Sittiha berhasil mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an setelah mengikuti pembinaan dan belajar membaca kitab suci sejak 2022. Pencapaian tersebut menjadi momen penuh syukur sekaligus bukti bahwa kesempatan belajar tetap terbuka bagi siapa pun, termasuk mereka yang telah memasuki usia senja.
Perjalanan Mbah Sittiha bukan tanpa hambatan. Dalam proses belajar, ia sempat dua kali hampir menyerah dan menyampaikan keinginan untuk berhenti karena merasa kesulitan membaca Al-Qur’an. Namun, dorongan semangat dan keteguhan hati membuatnya kembali melanjutkan pembelajaran hingga akhirnya mampu menuntaskan bacaan Al-Qur’an.
Keberhasilan tersebut juga menjadi bagian dari upaya Rumah Zakat melalui program Desa Ramah Lansia. Program ini dikembangkan untuk mendampingi para lansia, termasuk membantu mereka yang belum memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an agar memperoleh kesempatan belajar secara bertahap.
Suasana haru menyelimuti Taman Lansia Barokah pada Ahad sore. Mbah Sittiha hadir bersama keluarga besarnya, mulai dari anak, saudara, cucu hingga cicit. Dalam kesempatan itu, ia sekaligus menggenapi nazarnya untuk menggelar tasyakuran sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT atas pencapaian yang diraihnya.
Di hadapan keluarga dan pendampingnya, Mbah Sittiha melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an mulai dari Surah Ad-Dhuha hingga Surah An-Nas. Lantunan tersebut menjadi penanda keberhasilannya menyelesaikan proses pembelajaran yang telah dijalani selama beberapa tahun.
Relawan Inspirasi Rumah Zakat sekaligus pembina lansia setempat, Alif Bahtiar, mengungkapkan rasa haru dan bangganya atas pencapaian Mbah Sittiha. Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan manfaat pendampingan bagi para lansia yang memiliki kemauan untuk terus belajar.
“Alhamdulillah, ini adalah contoh nyata bahwasanya kegiatan kita di sini sangat bermanfaat. Terima kasih kepada Mbah Sittiha karena telah menjadi bagian keluarga dari lembaga ini, dan terima kasih sudah mewarnai tempat ini dengan kemauan yang kuat untuk terus belajar,” tutur Alif.
Kisah Mbah Sittiha menjadi pengingat bahwa proses belajar tidak dibatasi oleh usia. Ketekunannya menjalani pembelajaran selama empat tahun, termasuk ketika sempat ingin berhenti, memperlihatkan bahwa dukungan lingkungan dan pendampingan dapat menjadi bagian penting dalam membantu seseorang mencapai tujuan.
Melalui program Desa Ramah Lansia, Rumah Zakat berharap semakin banyak lansia memperoleh kesempatan untuk belajar membaca Al-Qur’an. Perjalanan Mbah Sittiha pun diharapkan dapat memantik semangat lansia lainnya agar tidak merasa terlambat untuk menimba ilmu dan memperdalam pemahaman agama.








