Bondowoso, FAKTUAL.CO.ID – Viralnya video aksi joget sejumlah karyawan di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) SPPG Lojajar memicu gelombang kritik dari masyarakat. Bukan sekadar soal hiburan, peristiwa ini dinilai menyentuh aspek serius terkait etika kerja dan standar pelayanan publik.
Di tengah sorotan tersebut, Dewan Pengurus Daerah Lembaga Pengawas Reformasi Indonesia (DPD LPRI) Jawa Timur menilai insiden ini sebagai alarm bagi pengelolaan dapur MBG. Ketua LPRI Jatim, Derek Frans Kraylo, menegaskan bahwa dapur program publik tidak boleh diperlakukan seperti ruang kerja biasa.
Menurutnya, dapur MBG merupakan bagian penting dari layanan yang berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat, sehingga menuntut kedisiplinan dan profesionalitas tinggi dari setiap karyawan.
“Ini bukan hanya soal joget, tetapi soal bagaimana standar etika dan tanggung jawab dijaga. Ketika berada di dapur pelayanan publik, ada batasan yang tidak boleh dilanggar,” ujarnya, Senin (23/3/2026).
Derek juga menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh oleh pengelola SPPG Lojajar. Ia menilai pembinaan internal harus diperkuat, termasuk penegakan aturan kerja yang lebih tegas agar insiden serupa tidak terulang.
Selain itu, LPRI Jatim mendorong peningkatan pengawasan dari pihak terkait dengan memastikan standar operasional prosedur (SOP) dijalankan secara konsisten di lapangan.
“Program MBG ini membawa misi besar. Jangan sampai kepercayaan publik luntur hanya karena kelalaian yang sebenarnya bisa dicegah,” tambahnya.
Sebelumnya, video aksi joget tersebut menyebar luas di media sosial dan menuai beragam komentar warganet. Sebagian besar menilai tindakan itu tidak pantas dilakukan di area pengolahan makanan, terlebih dalam program yang menyasar kepentingan masyarakat luas.
Sementara itu, hingga saat ini publik masih menantikan langkah tegas dari Satgas MBG Kabupaten Bondowoso terkait penanganan insiden tersebut, baik dalam bentuk sanksi maupun pembinaan terhadap karyawan yang terlibat.








