Bondowoso, FAKTUAL.CO.ID – Proyek plengsengan Tahun Anggaran 2025 di Desa Dusun Sambiritan RT. 9, Desa Sumber Tengah Kecamatan Binakal Kabupaten Bondowoso kian mengundang sorotan tajam. Alih-alih memberikan manfaat, proyek yang diduga mangkrak itu justru berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan warga.
Di lokasi, kondisi proyek tampak memprihatinkan. Konstruksi plengsengan terlihat amburadul dan jauh dari standar kelayakan. Lebih ironis lagi, akses penghubung antarwilayah hanya disiasati dengan jembatan darurat berbahan papan kayu seadanya—rapuh, licin, dan berisiko tinggi.
Fakta di lapangan tak bisa ditutupi. Jembatan darurat itu sudah memakan korban. Sedikitnya dua pengendara motor dilaporkan terjatuh saat melintas.
“Sudah ada dua pemotor jatuh, karena jembatannya cuma pakai papan, licin dan tidak aman,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan, Rabu (1/4/2026).
Tak hanya membahayakan, proyek mangkrak ini juga memunculkan persoalan lingkungan. Warga mengeluhkan bau menyengat yang muncul, terutama saat hujan turun.
“Kalau hujan, kotoran sapi dan sampah mengendap. Baunya menyengat sekali,” keluh warga lainnya.
Situasi ini menggambarkan potret buram pelaksanaan proyek desa yang diduga dikerjakan tanpa perencanaan matang dan pengawasan serius. Alih-alih menjadi solusi, proyek tersebut justru menyisakan persoalan baru yang merugikan masyarakat.
Yang lebih mengundang tanda tanya, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sebagai lembaga pengawas justru terkesan memilih diam.
BPD Sumber Tengah, Ibnu, tidak memberikan respons saat dikonfirmasi. Panggilan telepon tak diangkat, pesan tak dibalas. Bahkan saat didatangi ke kediamannya, yang bersangkutan tidak bersedia menemui awak media.
Sikap bungkam ini memantik kecurigaan publik.
Di tengah proyek bermasalah yang sudah menimbulkan korban, diamnya BPD justru mempertebal dugaan adanya ketidakberesan, mulai dari lemahnya pengawasan hingga potensi ketidaktransparanan anggaran.
“Kalau tidak ada yang ditutupi, kenapa harus menghindar? BPD itu wakil masyarakat, bukan justru menghilang saat dibutuhkan,” sindir seorang warga.
Minimnya keterbukaan dari pihak terkait semakin memperkeruh situasi. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada satu pun klarifikasi resmi, baik dari BPD maupun pemerintah desa.
Warga pun mendesak agar pihak berwenang turun tangan. Audit menyeluruh dan penelusuran penggunaan anggaran dinilai mendesak dilakukan, guna memastikan apakah proyek tersebut sekadar mangkrak karena kelalaian atau ada persoalan yang lebih serius di baliknya.(*)








