Bondowoso, FAKTUAL.CO.ID – Sebanyak 17 santri penghafal Al-Qur’an resmi diwisuda dalam acara Haflah Wisuda Tahfidz yang diselenggarakan oleh Syarif Internasional Boarding School (SIBS) Bondowoso, Selasa (12/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Hall The Garden Riverside Bondowoso tersebut berjalan penuh khidmat dan sarat suasana haru.
Para wisudawan terdiri dari berbagai jenjang pendidikan, mulai tingkat SD, SMP hingga SMA. Dengan mengenakan busana wisuda bernuansa islami, para santri tampak bangga saat menerima penghargaan atas perjuangan mereka dalam menghafal Al-Qur’an.
Kegiatan ini bukan sekadar seremoni kelulusan santri penghafal Al-Qur’an, melainkan simbol perjuangan keluarga dan lembaga dalam membangun generasi Qurani di tengah keterbatasan sistem pendidikan non-pesantren.
Pengasuh Syarif Internasional Boarding School (SIBS) , Ust. Syarif Hidayatullah, menegaskan bahwa wisuda tahun ini memiliki makna emosional yang mendalam, terutama bagi para orang tua yang selama ini setia mendampingi proses hafalan anak-anak mereka dari awal.
“Makna wisuda tahun ini adalah kehangatan bagi keluarga besar para santri, terutama ayah dan ibu yang mengawal mereka sejak awal belajar Al-Qur’an. Semoga ini menjadi kehangatan yang abadi bagi masing-masing keluarga,” ujar Syarif Hidayatullah.
Ia mengungkapkan, capaian hafalan santri tahun ini masih berada di kisaran beberapa juz, dengan rata-rata santri baru menghafal sekitar tiga juz. Sementara sebagian santri lama telah mencapai empat hingga lima juz.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak lepas dari status lembaga yang belum berbasis pondok pesantren penuh.
“Kami bukan pondok pesantren, sehingga memang belum bisa mencetak hafidz 30 juz secara penuh. Tapi ini menjadi ikhtiar besar kami. Doakan ke depan Syarief Institute mampu mewujudkan cita-cita itu,” katanya.
Meski demikian, Ustad Syarif menilai keberhasilan santri non-mondok mampu menghafal Al-Qur’an sudah menjadi bukti bahwa sistem pendidikan Al-Qur’an tetap bisa berjalan di tengah aktivitas pendidikan formal dan kehidupan keluarga.
“Kami ingin LPQ ini memberi manfaat luas bagi masyarakat Bondowoso. Terutama bagi para santri yang tidak mondok, tetapi tetap bisa menghafal Al-Qur’an. Ini yang sedang kami perjuangkan,” tegasnya.
Sementara itu, Pembina Syarief Internasional Boarding School (SIBS), Nurul Jamal Habaib, SH., MH., menyoroti konsep pendidikan terintegrasi yang diterapkan lembaga tersebut. Ia menilai sistem pendidikan tahfidz saat ini tidak bisa lagi berjalan secara konvensional tanpa pengawasan yang terukur.
Menurutnya, SIBS mengembangkan pola pendidikan yang menggabungkan sistem pesantren dengan pendidikan formal berbadan hukum yayasan.
“Anak-anak tidak harus tinggal di pondok atau mukim, tetapi perkembangan hafalannya tetap dipantau secara real time sesuai target yang ditentukan,” ujarnya.
Ia menegaskan, sistem itu menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat modern yang ingin anaknya tetap mendapatkan pendidikan formal tanpa kehilangan pembinaan Al-Qur’an.
“Ini adalah bentuk integrasi antara pendidikan berbasis pesantren dan pendidikan formal. Secara legal formal, kami berdiri dalam bentuk yayasan agar pembinaan pendidikan bisa berjalan lebih terstruktur dan berkelanjutan,” kata Nurul Jamal Habaib.
Wisuda Tahfidz Angkatan IV ini dihadiri wali santri, tokoh masyarakat, serta sejumlah tamu undangan. Momentum tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa pendidikan tahfidz di Bondowoso mulai berkembang dengan model pembinaan yang lebih fleksibel, namun tetap menargetkan lahirnya generasi penghafal Al-Qur’an.(Egha)








