BONDOWOSO, FAKTUAL.CO.ID – Polemik perbedaan hasil pemeriksaan HIV yang dialami seorang warga Kecamatan Bondowoso berinisial NA terus menjadi perhatian publik. Sorotan kini mengarah pada respons Puskesmas Wonosari yang baru melakukan mediasi dan menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga pasien setelah kasus tersebut ramai diberitakan media.
Sebelumnya, Kepala Puskesmas Wonosari, drg. Andriana Ayudati, M.M.Kes., mengakui keluarga pasien telah menyampaikan kekecewaan atas hasil pemeriksaan awal yang menyatakan pasien terindikasi HIV. Namun saat itu, pihak puskesmas belum sempat menemui keluarga untuk memberikan penjelasan secara langsung.
Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena penyelesaian baru terlihat setelah kasus berkembang menjadi konsumsi publik. Setelah pemberitaan mengenai polemik perbedaan hasil tes HIV mencuat, Kepala Puskesmas kemudian menyampaikan permohonan maaf melalui pesan WhatsApp kepada media. Dalam keterangannya, ia menyebut kasus tersebut akan menjadi bahan evaluasi internal dan audit klinis bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso.
Perkembangan berikutnya terjadi pada Kamis (30/7/2026). Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, dr. Moch. Jasin, M.Kes., FISQua, menyatakan pihaknya bersama Puskesmas Wonosari telah menemui keluarga pasien untuk melakukan mediasi sekaligus menyampaikan permintaan maaf.
“Kami sudah menemui keluarga, meminta maaf, menyampaikan evaluasi, termasuk langkah-langkah ke depan,” ujar dr. Jasin.
Meski demikian, Dinas Kesehatan menyatakan hasil evaluasi internal tidak menemukan adanya pelanggaran pelayanan yang dilakukan Puskesmas Wonosari. Menurutnya, pemeriksaan terhadap proses pengambilan sampel maupun alat yang digunakan juga telah dilakukan dan dinilai sesuai dengan ketentuan Kementerian Kesehatan.
“Kami sudah melakukan pemeriksaan terhadap pengambilan sampel. Alat dan prosedurnya sudah sesuai dengan ketentuan Menteri Kesehatan,” katanya.
Namun, saat ditanya mengenai bentuk pertanggungjawaban kepada pasien atas dampak psikologis maupun sosial yang mungkin timbul akibat perbedaan hasil pemeriksaan tersebut, Kepala Dinas Kesehatan tidak menjelaskan secara rinci.
Respons Puskesmas Wonosari yang baru terlihat setelah kasus menjadi sorotan publik
memunculkan sejumlah pertanyaan. Pasalnya, komunikasi langsung dengan keluarga, penyampaian permintaan maaf, hingga proses mediasi baru dilakukan setelah pemberitaan mengenai kasus tersebut viral. Kondisi ini menimbulkan persepsi di tengah masyarakat bahwa penyelesaian dilakukan ketika kasus telah mendapat perhatian luas.
Kasus ini sendiri berawal saat NA menjalani pemeriksaan kesehatan sebagai persyaratan calon pengantin pada Januari 2026 di Puskesmas Wonosari. Hasil skrining saat itu menunjukkan indikasi reaktif HIV. Sekitar tujuh bulan kemudian, pasien menjalani pemeriksaan ulang di fasilitas kesehatan lain dan di RSUD dr. H. Koesnadi Bondowoso. Berdasarkan dokumen hasil pemeriksaan yang diterima media, kedua pemeriksaan lanjutan tersebut menunjukkan hasil nonreaktif.
Perbedaan hasil pemeriksaan tersebut belum dapat disimpulkan sebagai kesalahan diagnosis.
Namun, polemik ini menegaskan pentingnya komunikasi yang cepat, transparan, dan empatik kepada pasien, terutama pada kasus yang menyangkut penyakit dengan stigma sosial tinggi seperti HIV. Langkah mediasi dan permintaan maaf yang baru dilakukan setelah kasus menjadi perhatian publik pun menjadi bagian yang kini ikut disorot masyarakat, bersamaan dengan harapan agar hasil evaluasi internal disampaikan secara terbuka demi menjaga kepercayaan terhadap pelayanan kesehatan.








