BONDOWOSO, FAKTUAL.CO.ID — Puskesmas Sukosari, Kabupaten Bondowoso, memberikan penjelasan resmi terkait beredarnya unggahan di media sosial yang menyoroti dugaan keterlambatan penanganan pasien di Unit Gawat Darurat (UGD). Pihak puskesmas menegaskan bahwa pelayanan telah berjalan sesuai standar, termasuk penerapan sistem triase dalam penanganan pasien.
Kepala Puskesmas Sukosari, drg. Ika Ratnasari, mengungkapkan bahwa pasien datang pada Kamis (21/5/2026) sekitar pukul 16.53 WIB dengan keluhan nyeri ulu hati. Setibanya di UGD, tenaga kesehatan langsung melakukan pemeriksaan awal berupa tanda-tanda vital dan pengkajian kondisi pasien.
“Pasien segera diperiksa tekanan darah, suhu, nadi, dan pernapasan, lalu dilakukan penilaian sesuai klasifikasi triase sebelum dikonsultasikan ke dokter penanggung jawab,” ujarnya, Selasa (26/5/2026).
Berdasarkan catatan medis, pasien berinisial B. Hartima (60), warga Desa Pecalongan, Kecamatan Sukosari, dalam kondisi umum baik dengan kesadaran compos mentis. Hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darah 170/90 mmHg, suhu 36,1 derajat Celsius, nadi 82 kali per menit, pernapasan 20 kali per menit, saturasi oksigen 98 persen, dan GCS 456.
Petugas UGD kemudian menghubungi dokter jaga pada pukul 16.56 WIB dan memperoleh respons pada pukul 17.05 WIB. Selama menunggu instruksi medis lanjutan, pasien tetap dalam observasi dan keluarga diberikan penjelasan terkait kondisi serta rencana penanganan.
Selain itu, tenaga kesehatan juga menanyakan riwayat konsumsi obat pasien guna memastikan terapi yang diberikan tidak tumpang tindih atau berisiko. Bahkan, keluarga diminta menunjukkan atau memfoto obat yang sebelumnya dikonsumsi sebagai bagian dari prinsip kehati-hatian dalam pelayanan medis.
Namun sebelum terapi lanjutan diberikan,
keluarga pasien memilih membawa pasien ke rumah sakit lain. Pihak puskesmas menyebut keputusan tersebut diambil saat proses konsultasi dengan dokter masih berlangsung.
“Estimasi pasien berada di UGD sekitar 10 menit sejak datang hingga proses konsultasi,” kata drg. Ika.
Menanggapi unggahan yang viral, pihak puskesmas telah melakukan klarifikasi langsung kepada keluarga pasien. Hasil komunikasi menyebutkan bahwa keluarga tidak merasa memiliki persoalan terkait pelayanan dan mengaku tidak mengetahui adanya unggahan tersebut.
“Informasi yang beredar diduga diunggah oleh pihak lain yang saat itu berperan sebagai sopir,” tambahnya.
Puskesmas Sukosari juga menyoroti dampak psikologis yang dialami tenaga kesehatan akibat informasi yang dinilai tidak utuh tersebut. Karena itu, pihaknya meminta pengunggah untuk memberikan klarifikasi guna mencegah kesalahpahaman publik.
Ke depan, Puskesmas Sukosari menyatakan komitmennya untuk terus meningkatkan mutu layanan serta membuka ruang pengaduan masyarakat melalui kanal resmi yang tersedia maupun langsung kepada kepala puskesmas.








