Bondowoso, FAKTUAL.CO.ID — Program rehabilitasi dan renovasi madrasah senilai Rp28.954.280.800,00 miliar di Kabupaten Bondowoso menuai polemik. Proyek yang bersumber dari anggaran APBN Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui skema PHTC Jawa Timur itu hingga kini belum rampung, meski masa kontrak telah berakhir.
Pekerjaan yang dilaksanakan PT Bumi Palapa Perkasa tersebut dialokasikan di 12 titik madrasah, meliputi MTsN, MIN, MAS, dan MI. Berdasarkan kontrak, proyek dimulai pada 9 Juli 2025 dengan masa kerja 175 hari kalender dan seharusnya selesai pada 30 Desember 2025. Namun hingga Februari 2026, sejumlah bangunan masih terbengkalai.
Kondisi ini berdampak langsung pada aktivitas belajar mengajar. Sejumlah pihak sekolah mengeluhkan bangunan yang belum layak digunakan sehingga mengganggu proses pendidikan.
Salah satu guru yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan keterlambatan proyek dipicu tersendatnya pasokan material bangunan.
“Pekerjaan sering terhenti karena material datang terlambat. Akibatnya progres lambat dan sampai sekarang belum selesai,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Kepala MIN 1 Locare, Nurhabi. Ia menyebut keterlambatan material, khususnya kusen pabrikan, membuat proses belajar siswa terganggu.
“Akibat bangunan belum selesai, jam belajar terpaksa dipindahkan ke masjid. Kami tidak tahu soal anggaran, hanya menerima hasil, tapi kondisi ini jelas tidak nyaman dan kasihan murid,” katanya.4/2.
Molornya proyek bernilai puluhan miliar rupiah ini memunculkan tanda tanya terkait manajemen pelaksanaan, pengawasan, serta kepatuhan terhadap jadwal kontrak.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen PT Bumi Palapa Perkasa yang beralamat di Kabupaten Pasuruan belum dapat ditemui. Sikap tertutup tersebut memunculkan tanda tanya publik serta memperkuat dugaan adanya persoalan yang sengaja dihindari untuk diklarifikasi secara terbuka.(*)








