Bondowoso, FAKTUAL.CO.ID – Penyaluran perdana program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bondowoso pada bulan suci Ramadhan langsung menjadi sorotan. Bantuan yang diterima warga hanya berupa telur, jeruk, dan sepotong jagung, sehingga memicu kritik dan pertanyaan dari masyarakat.
Penyaluran tersebut dilakukan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Gratis (SPPG) Mistahul Ulum 2, Desa Jebung Kidul, Kecamatan Tlogosari. Menu yang dinilai sangat sederhana itu dianggap belum mencerminkan kebutuhan asupan gizi yang optimal, terlebih pada bulan puasa ketika tubuh memerlukan energi dan nutrisi yang lebih terjaga.
Owner SPPG Mistahul Ulum 2, M. Idris, menjelaskan bahwa penyusunan menu telah disesuaikan dengan anggaran yang tersedia. Ia menyebut terdapat dua kategori porsi, yakni porsi besar dengan anggaran Rp10 ribu dan porsi kecil Rp8 ribu.
“Budget untuk porsi besar Rp10 ribu dan porsi kecil Rp8 ribu. Menu tersebut sudah melalui pertimbangan ahli gizi,” ujarnya.23/02.
Idris juga mengakui bahwa polemik serupa bukan kali pertama terjadi di Bondowoso. Menurutnya, pihak pengelola akan segera melakukan evaluasi terhadap dapur SPPG guna mencegah persoalan serupa terulang.
“Tidak sedikit kejadian seperti ini di Kabupaten Bondowoso. Kami akan evaluasi, dan jika terulang lagi akan saya tindak tegas,” tegasnya.
Sementara itu, Penasehat Hukum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) dari LBH Abu Nawas, Nurul Jamal Habaib, SH, menyampaikan ketidaksetujuannya atas menu yang beredar di media sosial tersebut.
Ia menilai, meski sulit menilai kandungan gizi hanya dari tampilan tiga jenis makanan, prinsip gizi seimbang tetap harus menjadi acuan utama.
“Menu tersebut memang sulit dinilai hanya dari tiga jenis makanan. Namun yang jelas, belum sesuai dengan harapan masyarakat, apalagi di bulan Ramadhan. Secara prinsip, gizi harus seimbang. Komposisinya perlu dilengkapi variasi sayur, cairan yang cukup, serta sumber lemak sehat agar kebutuhan energi dan nutrisi harian terpenuhi secara optimal,” tegasnya.
Polemik ini pun menjadi catatan penting bagi penyelenggara program MBG agar ke depan distribusi bantuan pangan tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga benar-benar memenuhi standar gizi yang diharapkan masyarakat.(*)








