Berita  

Wamenaker Immanuel Ebenezer Terjaring OTT KPK, Ironi Aktivis Antikorupsi yang Jatuh di Jurang Korupsi

Wamenaker Immanuel Ebenezer Terjaring OTT KPK, Ironi Aktivis Antikorupsi yang Jatuh di Jurang Korupsi
Wamenaker Immanuel Ebenezer Terjaring OTT KPK.

Jakarta, FAKTUAL.CO.ID – Malam kelabu menyelimuti dunia politik Indonesia ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjaring Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu malam, 20 Agustus 2025. Pria yang akrab disapa Noel ini, yang dulu dikenal sebagai aktivis antikorupsi dan pernah memimpin relawan Jokowi Mania, kini justru menjadi sorotan sebagai pejabat pertama di kabinet Prabowo–Gibran yang terjerat operasi senyap KPK.

KPK menegaskan bahwa OTT ini terkait dugaan pemerasan dalam pengurusan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Sebuah area vital yang mestinya menjamin keselamatan pekerja, justru diduga dijadikan ladang untuk meraup keuntungan haram. Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto menyebut, Noel ditangkap bersama setidaknya 10 orang lainnya, dengan barang bukti berupa uang tunai dan sederet kendaraan mewah.

Tak tanggung-tanggung, penyidik menyita 15 mobil dan 7 sepeda motor gede, termasuk dua Ducati kelas premium, Multistrada V4 dan Streetfighter V4, yang kini parkir di basement Gedung Merah Putih KPK. Koleksi kendaraan ini seolah mencerminkan gaya hidup mewah yang kontras dengan citra sederhana seorang aktivis yang dulu kerap lantang menyerukan moralitas di jalanan.

BACA JUGA :
Menyambut HUT Bhayangkara ke 77, Polres Bondowoso Adakan Lomba Turnamen Panahan

Kasus ini menjadi ujian serius bagi pemerintahan Prabowo Subianto. Presiden, yang segera mendapat laporan resmi dari KPK, memilih sikap hati-hati namun tegas. Ia menyatakan menghormati proses hukum dan menegaskan tak segan mencopot Noel jika terbukti bersalah. “Tidak ada kompromi terhadap korupsi,” kata Prabowo singkat.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli turut angkat suara. Ia menyebut OTT ini sebagai “pukulan berat” bagi kementeriannya yang sedang menggalakkan reformasi birokrasi. “Kami menyerahkan sepenuhnya proses kepada KPK. Yang jelas, pelayanan publik di Kemenaker tidak boleh berhenti,” ujarnya.

BACA JUGA :
Enam Cara Pasangan Anda Agar Tidak Berselingkuh

Publik merespons dengan getir. Bagaimana tidak, Noel bukanlah figur sembarangan. Ia dikenal sebagai aktivis jalanan, vokal menentang ketidakadilan, bahkan pernah masuk ke lingkaran istana sebagai Ketua relawan Jokowi Mania. Julukannya sebagai “si tukang tawuran” yang berani berhadapan dengan aparat kini berubah menjadi simbol kejatuhan moral seorang pejabat.

Bagi banyak kalangan, kasus ini adalah pengkhianatan terhadap nilai-nilai yang dulu ia perjuangkan. Dari aktivis yang berdiri di garis depan melawan korupsi, Noel kini terjerat dalam jejaring praktik yang sama.

Sesuai prosedur, KPK memiliki waktu 1×24 jam untuk menentukan status hukum Noel dan pihak lain yang diamankan. Jika bukti kuat ditemukan, ia akan segera ditetapkan sebagai tersangka. OTT ini dipandang sebagai sinyal keras bahwa KPK masih punya taring, meski publik kerap meragukan efektivitas lembaga antirasuah tersebut belakangan ini.

BACA JUGA :
Takut Air Meluap, Babinsa Sertu L. Sugianto Dan Warga Perbaiki Pagar Makam

Kasus ini juga membuka kemungkinan reshuffle kabinet dalam waktu dekat. Posisi Wamenaker dipastikan akan diganti jika Noel benar-benar dijerat sebagai tersangka. Istana menegaskan tidak akan melindungi siapapun yang bermain-main dengan kekuasaan.

OTT Wamenaker Immanuel Ebenezer adalah drama politik yang sarat ironi. Dari jalanan ke kursi kekuasaan, dari aktivis ke pejabat, dan kini dari simbol perlawanan menjadi simbol kejatuhan. KPK telah menyalakan alarm: korupsi bisa menjerat siapa saja, bahkan mereka yang dulu berteriak paling lantang menentangnya.

Kini, publik menanti apakah KPK benar-benar akan membawa kasus ini hingga meja hijau, ataukah ia akan menjadi satu lagi kisah pahit tentang pejabat yang lolos dari jeratan hukum. Yang jelas, nama Immanuel Ebenezer sudah terpatri dalam sejarah politik Indonesia—bukan sebagai pejuang, melainkan sebagai pejabat yang tumbang di tengah jalan.(*)

banner 400x130