FAKTUAL.CO.ID – Gelombang aksi unjuk rasa kembali melanda berbagai kota besar di Indonesia pada Jumat (29/8). Ribuan massa dari berbagai elemen mulai dari pengemudi ojek online, mahasiswa, hingga buruh turun ke jalan menyuarakan protes atas dua isu utama: tragedi meninggalnya seorang driver ojol akibat dilindas kendaraan taktis Brimob di Jakarta dan polemik tunjangan besar anggota DPR yang dinilai sebagai bentuk pemborosan anggaran.
Tragedi Ojol Jadi Pemicu
Aksi ini bermula dari kemarahan publik setelah insiden tragis di Jakarta, ketika seorang pengemudi ojek online tewas usai tertabrak kendaraan taktis saat polisi membubarkan massa. Rekaman video dan foto yang beredar cepat memicu gelombang solidaritas, tidak hanya di ibu kota, tetapi juga ke berbagai kota lain seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan, hingga Makassar.
“Nyawa rakyat tidak bisa diganti dengan permintaan maaf,” teriak salah satu orator aksi di Bandung, menyuarakan kekecewaan terhadap aparat.
Kritik Terhadap DPR
Selain menuntut keadilan bagi korban, demonstrasi juga membawa isu lain yang sudah lama menjadi ganjalan: tingginya tunjangan dan fasilitas anggota DPR di tengah kondisi ekonomi rakyat yang semakin sulit.
“Di saat rakyat sulit membeli beras dan membayar sewa rumah, para wakil rakyat malah asyik menambah fasilitas dan tunjangan. Ini penghinaan terhadap rakyat,” ujar koordinator aksi mahasiswa di Yogyakarta.
Poster-poster bertuliskan “Berhenti Korupsi Uang Rakyat” dan “DPR Hidup Mewah, Rakyat Menjerit” mewarnai aksi di berbagai daerah.
Gelombang Nasional
Di Jakarta, massa berkonsentrasi di sekitar Gedung DPR RI, sementara di kota lain aksi dilakukan di depan kantor DPRD setempat. Beberapa aksi berlangsung damai dengan doa bersama dan menyalakan lilin untuk mengenang korban ojol, namun di Solo dan Jakarta sempat terjadi bentrokan kecil antara massa dan aparat, yang berujung pada penggunaan gas air mata.
Tuntutan Massa
Secara garis besar, massa menyampaikan tiga tuntutan:
- Penegakan hukum terhadap aparat yang dianggap lalai hingga menyebabkan jatuhnya korban jiwa.
- Transparansi dan pemangkasan tunjangan DPR sebagai bentuk solidaritas terhadap kondisi ekonomi rakyat.
- Perbaikan perlindungan sosial dan ekonomi bagi kelompok rentan, termasuk pengemudi ojek online, buruh, dan pekerja informal lainnya.
Reaksi Pemerintah
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah pusat belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait desakan pengurangan tunjangan DPR. Sementara itu, Polri menyatakan tengah melakukan investigasi internal terhadap insiden yang menewaskan driver ojol di Jakarta.
Pengamat politik menilai bahwa rangkaian demonstrasi kali ini bisa menjadi titik balik bagi konsolidasi gerakan rakyat lintas sektor. “Kemarahan publik bukan hanya soal tragedi kemanusiaan, tetapi juga akumulasi kekecewaan atas kesenjangan sosial-ekonomi dan gaya hidup elite politik,” kata seorang analis dari Universitas Indonesia.