Tradisi ‘Ter-ater Tajin Sorah’ di Bulan Muharram, Ini Makna dan Filosofinya

Bondowoso, FAKTUAL.CO.ID – Bubur suro adalah salah satu hidangan dalam tradisi yang melekat dalam masyarakat Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa.

Bubur suro ini merupakan makanan yang wajib dibuat oleh sebagian besar masyarakat Jawa di bulan Asyuro atau bulan Muharram.

Menurut pemerhati budaya Jawa, bubur Suro merupakan refleksi dari masyarakat Jawa pada bulan Muharram. Juga sebagai lambang rasa syukur atas berkah dan rizki yang di berikan Allah SWT.

BACA JUGA :
Kodim 0825 Banyuwangi Berduka, Salah Satu Prajurit Terbaik Meninggal Dunia

Bubur suro ini menjadi kearifan lokal tersendiri oleh sebagian besar masyarakat Jawa pada umumnya. Sehingga bubur suro ini jarang ditemui di bulan-bulan lain kecuali di bulan Asyuro atau bulan Muharram.

Warga Jawa yang berbahasa Madura menyebut bubur suro dengan sebutan ‘Tajin Sorah’. Tajin artinya bubur. Sorah artinya Asyuro. Karena bubur ini hanya dibuat pada bulan Asyuro saja.

Setelah membuat bubur suro, kemudian di bagi-bagikan kepada saudara, dan tetangga dengan niatan sedekah dan menyambung tali silaturrahmi.

BACA JUGA :
KPH Bondowoso, Melalui KRPH Pakisan, Haji Asbari Ketua LMDH Sumbermas, Siap Bersinergi Dengan Perhutani Mengawal Keberhasilan Tanaman Pinus

Dalam bahasa Madura disebut ‘Ter-ater’ artinya menyambangi saudara dan tetangga sambil membawa makanan. Sehingga dikenal dengan ‘Ter-ater tajin sorah’.

Tradisi ini sudah turun temurun dilakukan. Konon sudah ada sejak Sultan Agung bertahta di Jawa. Terlepas dari mana asal usulnya, yang perlu diambil hikmahnya adalah azas manfaat yang bernilai pahala. Karena bubur suro ini bukan sesajen.

BACA JUGA :
Untuk Menjaga Imunitas Tubuh, Kapolres Bondowoso Ajak Jalan Santai Seluruh Jajaran

Bubur suro memiliki rasa yang gurih, terbuat dari tepung beras, santan, garam, jahe, dan sereh. Setelah diolah dan menjadi bubur, diatasnya ditaburi dengan macam-macam makanan lainnya, seperti kacang, ikan teri dan krupuk serta diberi kuah dari santan kelapa.

(Seluruh artikel ini dilansir  FAKTUAL.CO.ID dari berbagai sumber, bertujuan sebagai referensi tradisi dan kearifan lokal di Indonesia).

Editor: Ubay

banner 400x130