Jember, FAKTUAL.CO.ID – Aroma busuk kekerasan dalam rumah kembali tercium dari sudut Kaliwates, Jember. Seorang pria berinisial HB, yang seharusnya menjadi pelindung, justru diduga menjadi pelaku penganiayaan terhadap keponakannya sendiri, MH, seorang bocah lelaki di bawah umur. Peristiwa memilukan itu terjadi pada Kamis (3/4/2025) di kediaman keluarga mereka.
Kejadian bermula dari pertengkaran kecil antara MH dan anak HB—hal biasa bagi anak-anak. Namun, HB disebut langsung naik pitam saat mendengar anaknya menangis, dan tanpa konfirmasi lebih lanjut, diduga langsung menganiaya MH. Hal ini disampaikan langsung oleh ayah korban, Abdur Rohman, yang tak bisa menyembunyikan amarahnya.
“Namanya anak-anak, ya wajar kalau kadang bertengkar lalu baikan lagi. Tapi kakak saya, HB, seolah kehilangan akal sehat. Dia tak terima anaknya menangis, lalu tiba-tiba menyerang anak saya,” ujar Abdur Rohman dengan nada geram saat di Konfirmasi.
Abdur Rohman mengaku telah mencoba menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan. Ia menegur HB dengan cara baik-baik, namun bukannya mendapat respons yang bijak, HB justru balik menantang hingga terjadi adu mulut sengit. Cekcok pun tak terhindarkan dan sempat menyeret anggota keluarga lain, bahkan ibunda mereka yang sudah sepuh terjatuh saat mencoba melerai.
Merasa tak bisa diam, Abdur Rohman kemudian melaporkan peristiwa ini ke Polsek Kaliwates. Namun, bukannya mendapat proses hukum yang tegas, ia justru diarahkan untuk berkoordinasi dengan Babinsa dan pihak kelurahan. Hasilnya? Sebuah surat pernyataan damai terbit, seperti ingin menutup luka dengan secarik kertas.
Abdur Rohman mempunyai dugaan kuat terjadinya penganiyaan ini ada unsur balas dendam, ” Ini dendam masalah warisan mas, Kok tega anak mau sama harta orang tua akan tetapi tidak mau anggap sebagai orang tua sendiri. “Tambahnya .
Warga sekitar turut bersuara. Mereka mengaku terkejut. Meski HB dan MH tinggal dalam satu lingkungan, tak seorang pun menyangka hubungan kekeluargaan bisa berubah menjadi mimpi buruk seperti ini.
“Kami kira mereka rukun, namanya juga keluarga. Tapi kalau sampai ada dugaan penganiayaan anak, itu keterlaluan,” ujar seorang tetangga yang enggan disebut namanya.
Kasus ini menambah daftar kelam kekerasan terhadap anak yang terjadi justru dalam lingkaran keluarga sendiri. Hingga berita ini ditayangan, pelaku belum bisa memberikan tanggapan atas kasus ini.
(**)